Anak dan Teman Sebaya


Sebaya adalah orang yang memiliki tingkat umur dan kedawasaan yang kira-kira sama. Teman sebaya memiliki peran yang penting dalam perkembangan anak. Teman sebaya memiliki fungsi penting antara lain yaitu:

1. Memberikan sumber informasi dan perbandingan di luar lingkungan keluarga. Tentunya hal ini akan dijadikan sebagai tolak ukur bagi anak dalam mengevaluasi apa yang mereka lakukan.

2. Hubungan dengan teman sebaya yang baik diperlukan untuk perkembangan sosioemosional yang normal pada anak. Anak-anak yang menarik diri, ditolak oleh teman sebayanya dan merasa kesepian cenderung memilki resiko untuk mengalami depresi.

Hubungang dengan teman sebaya tentunya bisa member dampak yang positif maupun negatif pada anak. Oleh sebab itu, orang tua juga harus tetap mengawasi pergaulan anak dengan teman sebayanya. Dan mengajarkan pada anak untuk memilah mana yang perlu dicontoh dari teman sebayanya dan mana yang tidak. Orang tua turut mempengaruhi dalam hubungan teman sebaya, antara lain adalah:

1. Melatih anak cara bersosialisasi

2. Mengatur kehidupan anak dan kesempatan berinteraksi

3. Keputusan gaya hidup orang tua

Para ahli perkembangan membedakan 5 status sebaya

1. Anak popular yaitu anak yang sering didominasikan sebagai sahabat dan jarang tidak disukai oleh sebaya mereka.

2. Anak rata-rata yaitu anak yang menerima noninasi positif dan negative rata-rata dari sebaya mereka.

3. Anak yang diabaikan yaitu anak yang didominasikan sebagai sahabat tetapi tidak dibenci oleh sebaya mereka.

4. Anak yang ditolak yaitu anak yang jarang didominasikan sebagai sahabat dan dibenci secara selektif oleh sebaya mereka.

5. Anak controversial yaitu anak yang sering didominasikan sebagai teman baik seseorang tapi juga sebagai orang yang tidak disukai.

Menurut Gottman dan Parker, pertemanan memiliki 6 fungsi, antara lain adalah:

1. Persahabatan ( Companionship)

Dengan pertemanan anak-anak akan menemui mitra yang familiar , seseorang yang mau menghabiskan waktu dengan mereka dan bergabung dengan aktivitas kolaboratif.

2. Stimulasi

Dengan pertemanan anak dapat memperoleh informasi yang menarik, kesenangan dan hiburan.

3. Dukungan fisik

Dalam pertemanan terdapat sumber daya dan bantuan.

4. Dukungan ego

Dalam pertemanan terdapat harapan akan dukungan, semangat, dan umpan balik yang membantu anak memelihara kesan diri mereka sendiri sebagai individu yang kompeten, menarik dan pantas ditemani.

5. Perbandingan social

Pertemanan meyediakan informasi tentang posisi anak terhadap orang lain dan apakah anak tersebut berlaku baik.

6. Keintiman atau afeksi

Dalam pertemanan anak mengalami hubungan yang hangat, dekat, dan saling memercaya dengan individu lain, yaitu hubungan yang melibatkan keterbukaan diri.

Anak dan Media


Sesame Street VS Avatar. Mana yang lebih mendidik????”


Sesame Street adalah sebuah acara pendidikan anak-anak yang berasal dari Amerika Serikat untuk anak-anak pra-sekolah dan merupakan perintis standar televisi edukasi kontemporer yang menggabungkan pendidikan dan hiburan (edutainment). Sesame Street merupakan salah satu serial acara televisi yang paling lama tayang sepanjang sejarah pertelevisian. acara ini memberikan pengaruh yang sangat positif, Sesame Street menjadi salah satu tayangan pendidikan yang paling dihormati di dunia. Di indonesia Sesame Street pernah ditayangkan oleh stasiun televisi TVRI yaitu "Jalan Sesama" pada awal dekade 1974 sampai 1990 dan di RCTI dan SCTVpada awal dekade 1990-an. Selain itu, juga telah dibuat Sesame Street versi Indonesia yang dinamai "Jalan Sesama”. Acara tersebut ditayangkan di Trans7, 18 Februari 2008.


Data Umum

Jenis : Film

Judul : Sesame Street (Beginning)

Durasi : 24menit

Jenis : komic

Judul : Avatar

Halaman :

Penyampaian konten

Film boneka + orang

Komik full warna

Content

Bercerita tentang memulai bersama para bayi sesame street seperti elmo, cooky, berdt, plaily. Elmo: saat mandi bersama aayahnya

Berdt : mengenal dirinya di kaca bersama neni

Cooky : menunjukkan muka lucu bersama neneknya

Plaily : bermain ciluk ba saat memakai pakaian bersama ibunya

Bercerita tentang anak yang memiliki kekuatan dahsyat namun dia tidak mengetahuinya. Kemudian dengan kekuatannya dia mengembalikan kedamaian dunia

Tujuan

  • Mendukung keingin tahuan anak dan minatnya ntuk belajar dengan berinteraksi lewat lagu dan permainan yang lucu

  • Mengembangkan kedekatan anak dengan orang tua (Bonding)

  • Berbagi pengalaman dengan anak dengan orang yg dikasihi.

  • Mendorong sifat alami pada anak.

  • Belajar membela kebenaran.

  • Mengajarkan kerja sama.

  • Percaya pada kemampuan diri sendiri.

Sasaran Penonton/ pembaca

  • Orang tua yang memiliki anak (bayi)

  • Anak usia 6bulan ke atas

  • Lebih cocok untuk remaja daripada anak-anak. Karena didalamnya ada beberapa adegan kekerasannya.

  • Cocok untuk laki-laki, karena ada adegan actionnya.

Pengemasan Media

  • Sesuai usia yang di tuju dan tujuan film tersebut

  • Kurang menarik bagi orang tua karena terlihat konyol dalam penyampaiaannya

  • Kurang sesuai dengan usia yang dituju.


Teori yang relevan

  • Kemampuan bayi melalui tahap-tahap tekanan biologis ntuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya (melalui asimilasi dan akomodasi) dan ada pengorganisasian struktur berpikir (Piaget,perkembangan bayi dalam Santrock,2002)

  • Anak belajar dari apa yang dia lihat.



Analisis dari kedua media :

Kedua media diatas memang sangat menarik terutama bagi anak-anak. Seperti “Sesame Streat” yang menampilakan tokoh-tokoh boneka yang lucu dengan warna-warna yang menarik. “Sesame Streat” bukan hanya menampilkan boneka-boneka lucu saja, namun “Sesame Streat” juga mengajarkan banyak hal pada anak dengan penyampaiannya yang menarik. Penyampaiannya menggunakan cara bermain dan belajar. Hal ini tentunya sangat positif, karena di sini orang tua juga ikut berperan dalam mendampingi anak. Bukan hanya mendampingi anak, tapi di sini orang tua dituntut untuk ikut berpartisipasi untuk memotivasi anak serta member bimbingan atas apa yang ditonton. Dengan demikian komunikasi orang tua dengan anak akan semakin meningkat. Tentunya dengan demikian kedekatan anak dan orang tua akan semakin bertambah.

Sedangkan untuk komik avatar sendiri memang menyuguhkan cerita yang menarik dan dari cerita komik “avatar” tersebut kita bisa mengambil banyak pembelajaran dari ceritanya. Namun menurut saya, komik “avatar” ini tidak cocok untuk menjadi bacaan anak-anak karena ceritanya yang banyak menampilkan adegan-adegan kekerasan. Hal ini tentunya bisa member contoh yang buruk bagi anak terutama apabila tanpa bimbingan dari orang tua. Meskipun ceritanya menarik dan bisa memberi banyak pembelajaran, namun efek atau pembelajaran tersebut mungkin belum bisa dimengerti untuk ukuran anak-anak. Jadi sebaiknya orang tua lebih memberikan bacaan-bacaan yang edukatif untuk anak. Seperti: cerita rakyat, upin dan ipin dan lain-lain.


My opinion :

Saya lebih menyukai “Sesame Streat” karena dalam penyampaiannya film ini lebih menarik dan menyenangkan untuk anak. Dengan menggunakan cara bermain dan belajar tentunya akan lebih menarik perhatian si anak untuk belajar. Sebab cara tersebut dianggap sangat menyenangkan untuk anak. “Sesame Streat” juga banyak mengajarkan hal yang positif untuk anak dan lebih mendekatkan hubungan orang tua dengan anak.

Sedangkan dengan media yang satu lagi, menurut saya lebih banyak memberi pembelajaran yang negative pada anak. Sebab dalam komik “avatar” berisi adegan-adegan kekerasan, misal: perkelahian antara suku api dengan Aang. Anak belajar dari apa yang dia lihat ataupun dengar dari lingkungan sekitarnya. Oleh sebab itu, perlu adanya pengarahan dari orang tua. Agar si anak mampu memilah antara yang baik dan buruk. Namun akan lebih baik lagi jika orang tua memberikan buku bacaan yang lebih banyak mengajarkan hal-hal yang positif dan seseuai dengan umurnya.



TUGAS QUIS : Anak dan Media.

Nama : Wahyu Maulita

NIM : 0710033046


Bahasa



Pengertian Emosi

Emosi sering sekali dikaitkan sebagai suatu bentuk kemarahan yang terjadi pada seseorang. Namun sebenarnya emosi itu tidaklah selalu berbentuk sebuah kemarahan, emosi itu dapat berupa perasaan sedih, senang, takut dan lain sebagainya. Emosi dapat diartikan sebagai suatu bentuk perasaan yang muncul dalam diri seseorang pada keadaan ataupun situasi tertentu yang dianggap penting olehnya.


Macam-macam Emosi

Emosi dapat dibedakan menjadi 3 macam, yaitu

  1. Emosi Spesifik dan Emosi Tidak Spesifik

Emosi Spesifik, yaitu suatu bentuk emosi yang sudah jelas bentuknya. Contohny: marah, sedih, senang.

Emosi Tidak Spesifik, yaitu suatu bentuk emosi yang masih belum jelas bentuknya karena ada percampuran emosi yang terdapat didalamnya. Contohnya: seseorang merasa bahagia namun disaat yang bersamaan dia juga merasa sedih. Emosi ini adalah emosi yang dianggap masih tidak jelas.

  1. Emosi berdasarkan Intensitasnya: Lemah dan Kuat

  2. Emosi berdasarkan Klasifikasinya: Positif dan Negatif

Emosi Positif (Afektifitas Positif) , yaitu suatu bentuk emosi yang mengarah pada derajat emosi yang positif. Contohnya: antusiasme, kegembiraan, tertawa dan lain sebagainya.

Emosi Negatif (Afektifitas Negatif) , yaitu suatu bentuk perasaan yang mengacu pada emosi yang sifatnya negatif. Contohnya: kecemasan, perasaan bersalah, kesedihan.

Afektifitas positif dan afektifitas negatif merupakan suatu dimensi yang independen, dalam arti seorang anak dapat berada dalam derajat yang sama-sama tinggi pada kedua dimensi tersebut pada waktu yang bersamaan. Misalnya, seorang anak berada dalam keadaan energi yang tinggi dan bersemangat tinggi sekaligus marah.


Emosi dapat dipengaruhi oleh faktor biologis, namun faktor biologis disini hanya sebagai bagian dari emosi. Untuk memahami kapan, dimana dan bagaimana emosi harus diekspresikan, maka seseorang harus memahami budaya yang berlaku. Dengan kata lain seseorang perlu untuk mengendalikan emosinya dan menaati aturan dari budaya yang berlaku. Misalnya: seseorang yang sedang marah tidak mungkin meluapkan perasaan marahnya di tempat umum seperti berteriak-teriak d jalanan. Hal tersebut tentunya terjadi akibat adanya aturan dari budaya yang berlaku yang tidak memperbolehkan perilaku itu dilakukan pada tempat yang tidak seharusnya.


Konsep Perkembangan Emosi

Konsep perkembangan emosi ada 2, yaitu:

  1. Pengaturan Emosi (Emotional Regulation)

  2. Kompetensi Emosi (Emotional Competance)


Di bawah ini merupakan 6 tingkatan perkembangan emosi pada anak

  1. Regulasi diri dan minat terhadap lingkungan.

  2. Kemampuan anak terlibat dalam relasi dengan keakraban dan keintiman.

  3. Kemampuan terlibat dalam komunikasi dua arah. Bukan hanya secara verbal ( misalnya respon terhadap gesture, memulai interaksi, menunjukkan emosi keakraban).

  4. Kemampuan anak dalam menciptakan komunikasi kompleks. mengekspresikan keinginan dan emosi secara lebih berwarna, kompleks dan kreatif.

  5. Kemampuan anak untuk menciptakan ide, mengenal simbol, termasuk bahasa yang melibatkan emosi. Kemampuan menciptakan ide awalnya berkembang melalui permainan pura-pura yang memberikan kesempatan bereksperimen dengan perasaan, keinginan dan harapan.

  6. Kemampuan anak untuk menciptakan kaitan antar berbagai ide sehingga mampu berpikir secara logis dan sesuai dengan realitas.


Beberapa trend pengaturan emosi, yaitu:

  1. Berasal dari sumber daya eksternal ke internal.

Orang tua turut berpartisipasi dalam mengatur emosi pada anak. Disini orang tua akan memantau emosi dari si anak dan mengarahkannya. Sehingga semakin lama si anak akan semakin bisa mengatur emosinya senrdiri.

  1. Strategi Kognitif

Yaitu mencoba untuk berfikir positif terhadap suatu situasi, pengalihan atensi.

  1. Rangsangan Emosi

Rangsangan emosi yang ada akan menemukan titik balance. Dari marah kemudian lama-kelamaan akan mereda.

  1. Memilih dan mengatur konterks hubungan

Misalnya: ketika si A tidak menyukai si B, karena perasaan tidak sukanya itu maka dalam perasaan si A akan memilih untuk tidak bertemu dengan dengan si B.

  1. Coping terhadap stress


Emotional Regulation

Peran orang tua dalam mengatur emosi:

  1. Emotional Coaching

Yaitu memonitor , melatih dan scaffolding (perubahan tingkat dukungan). Orang tua di sini akan memantau dan melatih si anak dalam mengatur emosinya. Perubahan tingkat dukungan dapat terjadi jika tindakan atau perilaku tersebut muncul berulang kali. Misalnya: seorang anak bercerita pada orang tuanya bahwa dia tidak bisa mengrjakan tugas matematika sendirian. Kemudian orang tuanya pun memberi semangat dengan mengatakan bahwa “ kakak pasti bisa. Ayo coba dikerjaakan dulu”. Kemudian kejadian itu pun berulang hingga beberapa kali, sehingga si orang tua menjawab ketika si anak bercerita kembali, “ Ya itu kamu. Kalau kamu bisa matematika bukan kamu”. Disini dapat dilihat bahwa terjadi perubahan pada suatu tingkat dukungan.

  1. Emotional Dismissing

Yaitu berupa menolak, mengabulkan dan juga merubah.

  1. Emotional Competence

Anak memiliki beberapa ciri khas emosi, yaitu antara lain adalah:

  1. Emosi yang kuat

  2. Emosi sering kali tampak

  3. Emosi bersifat sementara

  4. Reaksi mencerminkan individualitas

  5. Reaksi berubah kekuatannya

  6. Emosi dapat diketahui melalui gejala perilaku.

Perkembangan emosi

Masa bayi:

  1. Emosi primer

Usia 3 bulan: emosi yang muncul pada usia ini adalah senang, sedih dan jijik.

Usia 2-6 bulan: marah.

Usia 6 bulan pertama: terkejut dab tertarik

Usia 6-8 bulan: takut. Mencapai puncak pada usia 18 bulan.

  1. Emosi disadari

Usia 1,5-2 tahun: empati, cemburu, bingung.

Usia 2,5 tahun: bangga, malu, bersalah

  1. Mekasime ekspresi emosi

Yaitu berupa tangisan ( tangisan biasa, marah, kesakitan ). Senyuman: reflex, sosial. Ketakutan.

Perkembangan Bahasa


Manusia menggunakan bahasa untuk berkomunikasi dengan satu sama lainnya. Dan untuk pertama kalinya manusia mengawali dalam berkomunikasi yaitu melalui tangisan. Dengan tangisan tersebut bayi dapat mengekspresikan kebutuhan-kebutuhannya. Dan seiring dengan berjalannya waktu maka kemampuan dalam berbicara pun akan semakin matang.

Bahasa dan berbicara merupakan hal yang berbeda. Bahasa mencakup segala bentuk komunikasi, baik yang’diutarakan dalam bentuk lisan. tulisan, bahasa isyarat, bahasa gerak tubuh, ekspresi wajah pantomim atau seni. Sedangkan bicara adalah bahasa lisan yang merupakan bentuk yang paling efektif untuk berkomunikasi, dan paling penting serta paling banyak dipergunakan. Dan dengan bertambahnya usia pada anak, maka perkembangan bahasanya pun akan meningkat. Disinilah peran orang tua sangat diperlukan dalam proses belajarnya berkomunikasi.

Orang tua merupakan contoh bagi anak-anaknya. Oleh sebab itu, orang tua harus memberikan contoh yang baik bagi anak-anaknya., memberi motivasi untuk anaknya, dan mengajarkan hal-hal positif lainnya. Orang tua sang bertanggung jawab atas kesuksesan belajarnya, oleh sebab itu hendaknya orang tua seantiasa berusaha untuk meningkatkan potensi anaknya semaksimal mungkin. Dengan demikian, anak anak lebih mudah dalam berkomunikasi dengan lingkungan yang ada disekitanya.

Perkembangan bahasa terbagi dalam 2 periode:

  1. Periode Prelinguistik (0-1 tahun)

  2. Periode Linguistik (1-5 tahun). Mulai periode linguistik inilah mulai srat anak mengucapkan kata kata yang, pertama. Yang merupakan saat paling meiiakjubkan bagi orang tua.

Dan periode linguistik sendiri masih dibagi kembali menjadi 3 fase:

  1. Fase satu kata ( holofrase )

Dalam fase ini anak hanya mampu menggunakan satu kata untuk mengungkapkan perasaan ataupun keinginannya. Namun dalam pengungkapannya, si anak tidak menunjukka perbedaan antara maksud yang satu dengan maksud yang lainnya. Pada umumnya kata pertama yang diurapkan oleh anak adalah kata benda, setelah beberapa waktu barulah disusul dengan kata kerja.

  1. Fase lebih dari satu kata

Pada fase ini, kata kedua yang akan muncul pada usia 18 bulan. Pada fase ini, anak sudah mampu membuat kalimat sederhana yang terdiri dari dua kata yang merupakan kata pokok. Setelah mampu mengucapkan dengan dua kata, maka si anak pun akan belajar mengucapkan kalimat dengan tiga kata, empat kata dan seterusnya. Pada fase ini anak sudah mulai berkomunikasi dengan lancar dengan orang lain. dan pada fase ini akan muncul tanya jawab sederhana antara anak dan orang tuanya.

  1. Fase diferensiasi

Periode ini merupakan periode terakhir dari masa balita. Yaitu ketika anak mencapai usia dua setengah sampai lima tahun. Dalam fase ini anak mengalami perkembangan yang sangat pesat dalam berbicara Anak mulai dapat mengkritik, bertanya, menjawab, memerintah, memberitahu dan bentuk-bentuk kalimat lain yang umum untuk satu pembicaraan “gaya” dewasa.

Potensi anak berbicara didukung oleh beberapa hal. Antara lain adalah:

  1. Kematangan alat bicara

Misalnya tenggorokan, langit-langit, lebar rongga mulut dan Iain-lain dapat mempengaruhi kematangan berbicara. Alat-alat tersebut baru dapat berfungsi dengan baik sehingga dapat membentuk atau memproduksi suatu kata dengan baik scbagai permulaan berbicara.

  1. Kesiapan berbicara

Kesiapan mental anak sangat berganrung pada pertumbuhan dan kematangan otak. Kesiapan dimaksud biasanya dimulai sejak anak berusia antara 12-18 bulan, yang disebut teachable moment dari perkembangan bicara. Pada saat inilah anak betul-betul sudah siap untuk belajar.

  1. Adanya model yang baik untuk dicontoh oleh anak

Anak akan membutuhkan model tertentu agar dapat melafalkan kata dengan tepat untuk dapat dikombinasikan dengan kata lain sehingga menjadi suatu kalimat yang berarti. Model tersebut dapat diperoleh dari orang lain, misalnya orang tua atau saudara, dari radio yang sering didengarkan atau dari TV, atau actor film yang bicaranya jelas dan berarti.

  1. Kesempatan berlntih

Apabila anak kurang mendapatkan latihan keterampilan berbicara akan timbul frustasi dan bahkan sering kali marah yang tidak dimengerti penyebabnya oleh orang tua atau lingkungannya: Pada akhirnya anak kurang memperoleh motivasi untuk belajar berbicara yang pada umumnya disebut “anak ini lamban” bicaranya.

  1. Motivasi untuk belajar dan berlalih

Memberikan motivasi dan melatih anak untuk berbicara sangat penting bagi annk karena untuk memenuhi kebutuhannya untuk memanfaatkan potensi anak. Orang tua hendaknya selalu berusaha agar motivasi anak untuk berbicara jangan terganggu atau tidak mendapatkan pengarahan.

  1. Bimbingan

Bimbingan bagi anak sangat. penting untuk mengembangkan potensinya. Oleh karena itu hendaknya orang tua suka memberikan contoh atau model bagi anak, berbicara dengan pelan yang mudah diikuti oleh anak dan orang tua siap memberikan kritik atau mcmbetulkan apabila dalam berbicara anak berbuat suatu kesalahan. Bimbingan tersebut sebaiknya selalu dilakukan secara terus menerus dan konsisten sehingga anak tidak mengalami kesulitan apabila berbicara dengan orang lain.



Identitas dan Gender


Identitas dan Gender


Identitas

Identitas adalah potret diri, dan terjadi dari berbagai potongan, antara lain adalah:

  1. Jalur karir dan pekerjaan yang ingin diikuti oleh seseorang ( identitas karir/ vokasional )

  2. Apakah seseorang konservatif, liberal atau berdiri ditengah-tengsh identitas ( identitas politik )

  3. Kepercayaan spiritual seseorang ( identitas religious )

  4. Apakah seorang lajang menikah, bercerai dan seterusnya ( identitas hubungan)

  5. Sejauh mana seseorang termotivasi untuk berprestasi atau mencapai sebuah hubungan intelektualitas ( identitas pencapaianatau intelektual )

  6. Apakah seseorang heteroseksual, homo seksual, atau biseksual ( identitas seksual )

  7. Berasal dari wilayah manakah seseorang dan sejauh manakah dia mengidentifikasi dirinya dengan warisan kebudayaan ( identitas etnis )

  8. Hal-hal yang disukai ( minat )

  9. Karakteristik kepribadian individu ( kepribadian )

  10. Body image individu ( identitas fisik )


Menurut Teori Erikson

Erikson berpendapat bahwa identitas merupakan aspek kunci dari perkembangan remaja. Tahap kelima perkembangan yang dialami pada masa remaja adalah "identity vs identity confusion". Menurutnya, pada masa ini remaja akan memutuskan siapa mereka, apa mereka, dan akan ke mana mereka. Pencarian identitas selama masa remaja akan dibantu oleh " moratorium psikososial" yaitu sebuah istilah yang menjelaskan celah antara sekuritas masa kanak-kanak dan tanggung jawab masa dewasa. Remaja akan mencari-cari indentitas dalam kebudayaan mereka, mencoba-coba berbagai peran dan kepribadian.

Pada masa remaja, seorang anak dapat berubah menjadi pemberontak, tidak mau tau dan sok tau. Oleh sebab itu, orang tua perlu untuk memberikan waktu dan kesempatan pada remaja untuk mengeksplorasi berbagai peran dan kepribadian yang berbeda. Kebanyakan remaja kemudian membuang peran-peran yang tidak diinginkan.

Remaja yang sukses dalam menghadapi konflik identitas akan muncul menjadi diri yang dapat diterima dalam suatu lingkungan. Sedangkan remaja yang belum sukses dalam menghadapikrisi ini akan mengalami kebingungan identitas ( identitas confusion )

Status identitas ada 4, yaitu:

  1. Identity duffusion

Adalah individu yang belum mengalami krisis, dan belum membuat komitmen.

  1. Identity foreclosure

Adalah individu yang sudah membuat komitmen, tapi belum mengalami krisis.

  1. Identity moratorium

Individu yang tengah berada pada masa krisis tetapi belum memiliki komitmen atau kalaupun ada masih sangat kabur.

  1. Identity achievement

Individu yang sudah melalui krisis dan sudah sampai pada sebuah komitmen.



Gender

Gender mengacu pada dimensi soasial sebagai laki-laki atau perempuan. Identitas gender ( gender identity) yaitu rasa sebagai laki-laki atau perempuan yang diperoleh oleh sebagian besar anak-anak pada waktu mereka berusia 3 tahun.


Seks:

Relative konstan / tidak berubah. Dikotoninya: pria atau wanita.

Gender:

  • Sifatnya yang melekat dapat dipertukarkan.

  • Dikotoninya: feminism dan maskulin . yaitu gender role standar yang tidak ada kaitannya dengan seks.

Jenis Kelamin:

Biologis ( tidak dimiliki sejak lahir ). Tidak dapat di rubah.

Gender:

Konstruksi social ( tidak memiliki sejak lahir). Dapat dirubah.

Gender menurut teori psikoanalisis dan kognitif social.

Teori psikoanalisa:

  • Ketertarikakan seksual terhadap orang dengan jenis kelamin dan yang berlawanan. Pada usia 3-5 tahun ( odipus complex )

  • Identifikasi terhadap orang tua dengan jenis kelamin yang sama dengan usia 5-6 tahun.

Hasilnya adalah perilaku gender sama dengan orang tua berjenis kelamin sama dengan anak.