Bahasa



Pengertian Emosi

Emosi sering sekali dikaitkan sebagai suatu bentuk kemarahan yang terjadi pada seseorang. Namun sebenarnya emosi itu tidaklah selalu berbentuk sebuah kemarahan, emosi itu dapat berupa perasaan sedih, senang, takut dan lain sebagainya. Emosi dapat diartikan sebagai suatu bentuk perasaan yang muncul dalam diri seseorang pada keadaan ataupun situasi tertentu yang dianggap penting olehnya.


Macam-macam Emosi

Emosi dapat dibedakan menjadi 3 macam, yaitu

  1. Emosi Spesifik dan Emosi Tidak Spesifik

Emosi Spesifik, yaitu suatu bentuk emosi yang sudah jelas bentuknya. Contohny: marah, sedih, senang.

Emosi Tidak Spesifik, yaitu suatu bentuk emosi yang masih belum jelas bentuknya karena ada percampuran emosi yang terdapat didalamnya. Contohnya: seseorang merasa bahagia namun disaat yang bersamaan dia juga merasa sedih. Emosi ini adalah emosi yang dianggap masih tidak jelas.

  1. Emosi berdasarkan Intensitasnya: Lemah dan Kuat

  2. Emosi berdasarkan Klasifikasinya: Positif dan Negatif

Emosi Positif (Afektifitas Positif) , yaitu suatu bentuk emosi yang mengarah pada derajat emosi yang positif. Contohnya: antusiasme, kegembiraan, tertawa dan lain sebagainya.

Emosi Negatif (Afektifitas Negatif) , yaitu suatu bentuk perasaan yang mengacu pada emosi yang sifatnya negatif. Contohnya: kecemasan, perasaan bersalah, kesedihan.

Afektifitas positif dan afektifitas negatif merupakan suatu dimensi yang independen, dalam arti seorang anak dapat berada dalam derajat yang sama-sama tinggi pada kedua dimensi tersebut pada waktu yang bersamaan. Misalnya, seorang anak berada dalam keadaan energi yang tinggi dan bersemangat tinggi sekaligus marah.


Emosi dapat dipengaruhi oleh faktor biologis, namun faktor biologis disini hanya sebagai bagian dari emosi. Untuk memahami kapan, dimana dan bagaimana emosi harus diekspresikan, maka seseorang harus memahami budaya yang berlaku. Dengan kata lain seseorang perlu untuk mengendalikan emosinya dan menaati aturan dari budaya yang berlaku. Misalnya: seseorang yang sedang marah tidak mungkin meluapkan perasaan marahnya di tempat umum seperti berteriak-teriak d jalanan. Hal tersebut tentunya terjadi akibat adanya aturan dari budaya yang berlaku yang tidak memperbolehkan perilaku itu dilakukan pada tempat yang tidak seharusnya.


Konsep Perkembangan Emosi

Konsep perkembangan emosi ada 2, yaitu:

  1. Pengaturan Emosi (Emotional Regulation)

  2. Kompetensi Emosi (Emotional Competance)


Di bawah ini merupakan 6 tingkatan perkembangan emosi pada anak

  1. Regulasi diri dan minat terhadap lingkungan.

  2. Kemampuan anak terlibat dalam relasi dengan keakraban dan keintiman.

  3. Kemampuan terlibat dalam komunikasi dua arah. Bukan hanya secara verbal ( misalnya respon terhadap gesture, memulai interaksi, menunjukkan emosi keakraban).

  4. Kemampuan anak dalam menciptakan komunikasi kompleks. mengekspresikan keinginan dan emosi secara lebih berwarna, kompleks dan kreatif.

  5. Kemampuan anak untuk menciptakan ide, mengenal simbol, termasuk bahasa yang melibatkan emosi. Kemampuan menciptakan ide awalnya berkembang melalui permainan pura-pura yang memberikan kesempatan bereksperimen dengan perasaan, keinginan dan harapan.

  6. Kemampuan anak untuk menciptakan kaitan antar berbagai ide sehingga mampu berpikir secara logis dan sesuai dengan realitas.


Beberapa trend pengaturan emosi, yaitu:

  1. Berasal dari sumber daya eksternal ke internal.

Orang tua turut berpartisipasi dalam mengatur emosi pada anak. Disini orang tua akan memantau emosi dari si anak dan mengarahkannya. Sehingga semakin lama si anak akan semakin bisa mengatur emosinya senrdiri.

  1. Strategi Kognitif

Yaitu mencoba untuk berfikir positif terhadap suatu situasi, pengalihan atensi.

  1. Rangsangan Emosi

Rangsangan emosi yang ada akan menemukan titik balance. Dari marah kemudian lama-kelamaan akan mereda.

  1. Memilih dan mengatur konterks hubungan

Misalnya: ketika si A tidak menyukai si B, karena perasaan tidak sukanya itu maka dalam perasaan si A akan memilih untuk tidak bertemu dengan dengan si B.

  1. Coping terhadap stress


Emotional Regulation

Peran orang tua dalam mengatur emosi:

  1. Emotional Coaching

Yaitu memonitor , melatih dan scaffolding (perubahan tingkat dukungan). Orang tua di sini akan memantau dan melatih si anak dalam mengatur emosinya. Perubahan tingkat dukungan dapat terjadi jika tindakan atau perilaku tersebut muncul berulang kali. Misalnya: seorang anak bercerita pada orang tuanya bahwa dia tidak bisa mengrjakan tugas matematika sendirian. Kemudian orang tuanya pun memberi semangat dengan mengatakan bahwa “ kakak pasti bisa. Ayo coba dikerjaakan dulu”. Kemudian kejadian itu pun berulang hingga beberapa kali, sehingga si orang tua menjawab ketika si anak bercerita kembali, “ Ya itu kamu. Kalau kamu bisa matematika bukan kamu”. Disini dapat dilihat bahwa terjadi perubahan pada suatu tingkat dukungan.

  1. Emotional Dismissing

Yaitu berupa menolak, mengabulkan dan juga merubah.

  1. Emotional Competence

Anak memiliki beberapa ciri khas emosi, yaitu antara lain adalah:

  1. Emosi yang kuat

  2. Emosi sering kali tampak

  3. Emosi bersifat sementara

  4. Reaksi mencerminkan individualitas

  5. Reaksi berubah kekuatannya

  6. Emosi dapat diketahui melalui gejala perilaku.

Perkembangan emosi

Masa bayi:

  1. Emosi primer

Usia 3 bulan: emosi yang muncul pada usia ini adalah senang, sedih dan jijik.

Usia 2-6 bulan: marah.

Usia 6 bulan pertama: terkejut dab tertarik

Usia 6-8 bulan: takut. Mencapai puncak pada usia 18 bulan.

  1. Emosi disadari

Usia 1,5-2 tahun: empati, cemburu, bingung.

Usia 2,5 tahun: bangga, malu, bersalah

  1. Mekasime ekspresi emosi

Yaitu berupa tangisan ( tangisan biasa, marah, kesakitan ). Senyuman: reflex, sosial. Ketakutan.

0 komentar:

Posting Komentar